Konektivitas, Perubahan dan Tantangan: Sumberdaya Manusia Perikanan di Tahun 2030

Ekonomi negara-negara maju sekarang ini mengalamai “turbulensi” yang sangat berat. Jepang sebagai salah satu contoh dari negara maju yang mengalami terjadinya proses penuaan di masyarakat, kekurangan tenaga kerja muda dan kesenjangan yang melebar. Banyak pabrik-pabrik industri termasuk industri perikanan harus memindahkan industrinya ke negara-negara yang mempunyai banyak pekerja-pekerja muda dan dibayar lebih murah sehingga ongkos… Read more »

Ekonomi negara-negara maju sekarang ini mengalamai “turbulensi” yang sangat berat. Jepang sebagai salah satu contoh dari negara maju yang mengalami terjadinya proses penuaan di masyarakat, kekurangan tenaga kerja muda dan kesenjangan yang melebar. Banyak pabrik-pabrik industri termasuk industri perikanan harus memindahkan industrinya ke negara-negara yang mempunyai banyak pekerja-pekerja muda dan dibayar lebih murah sehingga ongkos produksi biasa ditekan. Selain itu mereka juga menginginkan ekspansi pemasaran bisa diperluas dengan tetap mematuhi dserta mengikuti kualitas produksi yang diharapkan oleh Jepang.

“Turbulensi-turbulensi” ini sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap apa yang akan terjadi pada tahun 2030 dalam konteks sumberdaya manusia perikanan. Majalah terkemuka Time dan Newsweek telah memberikan gambaran di headline mereka pada tahun 2012 dan 2013 bahwa kebutuhan akan sumberdaya manusia akan meningkat khususnya pada lulusan Diploma atau Vokasi.

Ini menunjukkan bahwa kebutuhan sumberdaya manusia di banyak bidang termasuk perikanan akan “berlomba” dengan ketersediaan sumberdaya alam yang semakin lama semakin tereksploitasi. Di sisi yang lain, Majalah Newsweek memperlihatkan hasil liputannya yang memberi pertanyaan yang cukup menohok, “apakah sebuah institusi pendidikan tinggi merupakan suatu investasi yang merugi”. Pertanyaan ini ada karena melihat banyaknya lulusan pendidikan tinggi yang tidak “fit dan inline” dengan ketersediaan pekerjaan yang ada.

Dalam konteks sumberdaya perikanan, ini terlihat dengan semakin menurunnya minat anak-anak muda untuk belajar ilmu perikanan dan kelautan. Kedua media ini sepertinya pesismis dengan pengembangan sumberdaya manusia pada umumnya dan itu terjadi juga pada sumberdaya manusia perikanan.

Di sisi sumberdaya alam, The Economist dan Time memunculkan optimisme, bahwa harapan itu ada pada bidang perikanan, di mana konsep blue revolution untuk ketahanan pangan dan budidaya ikan, dipercaya akan memainkan peranan penting dalam pemasokan sumber protein setelah hasil tangkapan ikan menurun di beberapa tahun ke depan.

Dalam konteks sumberdaya perikanan, ini terlihat dengan semakin menurunnya minat anak-anak muda untuk belajar ilmu perikanan dan kelautan

Kedua ramalan di atas berada dalam ketidakpastian dikarenakan ada turbulensi lain yang tidak pernah di duga sebelumnya. Turbulensi itu, meluluh lantakkan perekonomian suatu negara termasuk Indonesia yaitu pandemic COVID19. Walaupun begitu sektor perikanan harus tetap berjalan karena sektor ini mempekerjakan banyak orang dan keluarga khususnya di negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.

The Rockefeller Foundation bekerja sama dengan Pemerintah Belanda mengumumkan pada tanggal 23 April 2020 tentang pemberian dukungan dana ke WorldFish dan Earth of Observatory of Singapore untuk memproduksi peta jalan Ikan di masa yang akan datang. Worldish akan mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk membantu mendefinisikan tujuan-tujuan dari suatu sistem makanan dari produk perikanan yang sepenuhnya merupakan kebutuhan global di tahun 2030. The Rockefeller Foundation dan Pemerintah Belanda sudah melihat dan memprediksi bahwa 50 % sumber protein di masa mendatang akan berasal dari sumberdaya ikan sebagai sumber protein.

Koneksivitas-koneksivitas di atas sejatinya memperlihatkan suatu prediksi bahwa pemerintah Indonesia harus memperlihatkan upaya-upaya di dalam mengantisipasi kebutuhan sumberdaya manusia di bidang perikanan pada tahun 2020. Data dari World Economic Forum memperlihatkan bahwa di negara-negara ASEAN, ada sekitar 20 jutaan tenaga kerja utama yang bergerak di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Di sisi lain di Negara Jepang, hanya ada sekitar 3 jutaan. Data ini menunjukkan bahwa akan ada kesenjangan di tahun 2030 dalam hal tenaga kerja di bidang perikanan. Sejatinya ini merupakan hal yang positif buat Indonesia untuk mengisi kesenjangan itu melalui sumberdaya manusia perikanan yang berketerampilan dan mempunyai adaptabilitas tinggi serta mampu menjalankan teknologi tinggi serta Intelegensi buatan yang di topang oleh Informasi teknologi yang begitu cepat.

Berbasis konektivitas-konektivitas dan tantangan di atas, penyiapan sumberdaya perikanan harus diupayakan untuk memiliki kesiapan dan dapat memainkan peranan penting di tahun 2030. Sumberdaya-sumberdaya manusia perikanan harus bisa “bermigrasi” dan tidak larut atau masuk ke dalam perangkap kelas menengah, yang terlena dengan sumberdaya alam melimpah di Indonesia. Perangkap ini membuat para anak muda tidak lagi ingin “menjelajahi dan merebut” dunia. Pada sisi yang lain perubahan merupakan suatu keharusan untuk melakukan “perlawanan” di tengah suatu keadaan yang tidak pasti.

Perubahan-perubahan ini sejatinya harus disikapi dengan penciptaan-penciptan inovasi termasuk usaha menglobalkan suatu produk-produk perikanan lokal yang bernilai tinggi. Produk-produk perikanan ini, bisa dipasarkan tidak lagi dengan memasarkan secara konvensional dari suatu tempat terpencil ke kota-kota besar sebelum masuk ke pasar global. Produk-produk perikanan ini bisa langsung dipasarkan langsung ke negara-negara yang membutuhkan karena mereka tidak punya sumberdaya perikanan yang cukup untuk mengisi kebutuhan sumberdaya protein seperti yang telah dijelasakan di atas.

Tentu saja produk-produk perikanan ini harus mempunyai nilai tambah. Ini semua hanya bisa dilakukan dengan teknologi informasi yang menjembatani produk-produk ini bisa sampai ke pasar global tanpa harus melalui proses birokrasi serta bisa membuat ketergantungan positif negara-negara yang tidak mempunyai kelimpahan sumberdaya alam yang luar biasa seperti Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *